Death and What To Do About Life?

6 Oct

Dua minggu yang lalu, secara impulsif saya membeli buku Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya. Sudah berkali-kali saya dengan curang membaca gratis sebagian isinya di toko buku dan buku ini tidak pernah gagal memberi semangat baru setiap saya merasa down.

Di buku ini ada 1 cerita tentang pengusaha dan 4 istrinya.

Pada saat si pengusaha sekarat sudah di ambang ajal, dia memanggil istri keempatnya yang selebritis, paling muda, paling cantik dan paling disayang.

“Sayangku,” katanya, “Dalam satu-dua hari lagi aku akan meninggal. Setelah mati, aku akan kesepian tanpa dirimu. Maukah engkau ikut bersamaku?”

“Tidak mau!” jawab si istri keempat. “Aku akan tetap di sini. Aku akan berdoa saat pemakamanmu, tapi tidak lebih dari itu.” Dia pun bergegas keluar dari kamar suaminya.

Si pengusaha sakit hati, istri kesayangannya ternyata tidak mencintainya sebesar cinta yang ia berikan kepadanya. Padahal selama ini istri keempatnya itu selalu ia perhatikan, selalu ia bawa sebagai pendamping dalam setiap acara penting.

 

Dia lalu memanggil istri ketiganya, yang dinikahinya saat dia separuh baya. Istri ketiganya telah memberi dia banyak kebahagiaan dan dulu si pengusaha cukup susah payah menggaetnya. Dia adalah perempuan menarik yang didambakan oleh semua pria, dan sangat setia. Dia telah memberikan rasa aman untuk si pengusaha.

“Manisku,” kata si pengusaha, “tak lama lagi aku akan meninggal. Setelah kematian aku akan kesepian tanpa kamu. Maukah kau ikut bersamaku?”

“Sama sekali tidak!” kata si istri ketiga yang menggairahkan itu dengan gaya bisnisnya. “Mana bisa seperti itu? Aku akan mengadakan upacara pemakaman yang mewah buatmu, tapi setelah upacara selesai aku akan pergi bersama putramu.”

 

Rencana perselingkuhan istri ketiga membuat si pengusaha shock. Dia mengusir istri ketiga lalu memanggil istri keduanya, yang sudah hidup lama dengannya. Istri keduanya tidak begitu menarik tapi selalu ada di sisi suaminya untuk membantu memecahkan masalah dan memberi nasihat, dia adalah sahabat yang paling terpercaya.

“Istriku,” kata si pengusaha sambil menatap ke mata istrinya, “sebentar lagi aku akan meninggal dunia. Setelah mati aku akan kesepian tanpamu. Maukah engkau ikut bersamaku?”

“Maafkan aku,” kata istri kedua dengan penuh penyesalan, “aku tak bisa pergi bersamamu. Aku akan menemanimu sampai di sisi lubang kubur, tapi tidak lebih dari itu.”

 

Hati si pengusaha hancur oleh penolakan yang bertubi-tubi. Akhirnya dia memanggil istri pertamanya, yang telah diabaikan selama bertahun-tahun, terutama setelah ia bertemu dengan istri ketiga yang memikat dan istri keempat yang selebritis. Dia merasa tidak enak hati saat melihatnya berpakaian lusuh dan begitu kurus.

“Sayangku,” katanya dengan nada memohon, “sebentar lagi aku akan meninggal. Setelah mati aku akan kesepian tanpamu. Maukah kau ikut bersamaku?”

“Tentu saja aku akan pergi bersamamu,” jawab istri pertama dengan mantap. “Aku akan selalu bersamamu dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.”

Istri pertama adalah karma. Istri kedua adalah keluarga. Istri ketiga adalah kekayaan. Istri keempat adalah kemahsyuran.

 

Hehehe.. setiap kali baca cerita ini saya selalu merinding.

Kehidupan itu tidak berlangsung selamanya, setiap membaca cerita ini saya selalu diingatkan bahwa yang terpenting dalam hidup bukanlah berapa jumlah kekayaan yang saya punya, tapi apa saja yang sudah saya lakukan selama hidup.

Seperti yang dibilang Steve Jobs,

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma – which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”

 

RIP Steve Jobs, you’ve done an insanely great work.

Pensil dan Penghapus

25 Aug

Found this at kaskus

Pensil : “Maafkan aku Penghapus…”
Penghapus : “Maafkan aku? Untuk apa Pensil?? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku.”

Pensil : “Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..”

Penghapus : “Hal itu memang benar, namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu.

Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru, aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih.”

Si Penghapus adalah Orang Tua kita.
Si Pensil adalah diri kita sendiri.

Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya, untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya.

Namun terkadang, seiring berjalannya waktu orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil (bertambah tua dan akhirnya meninggal).

Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (suami atau istri), namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.

“Hingga saat ini..
Saya masih menjadi Si Pensil.
Hal itu sangat menyakitkan diri saya.
Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah “Kecil” dan “Kecil” seiring berjalannya waktu.

Kelak suatu hari,
Yang tertinggal hanyalah “Serutan” si penghapus
(segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka).”

Kisah ini saya dedikasikan secara khusus kepada orang tua saya dan seluruh orang tua kalian. PARENTS are The Most In Life.

Good Luck and Prejudice

29 May

Watching another J-Dorama, this time it’s “GOOD LUCK!”, yeaa.. I’m a fan of Kimura Takuya since Long Vacation. I find his character in dorama brings strong impressions, even though sometimes the story is average but he can bring any character to a specific Kimutaku-output, so I like him.

Shinkai the co-pilot

He’s a pilot in this dorama, a very rebellious and idealist one. Good Luck is a term that was said to a pilot so that he will have a good and safe flight. I’ve only watched 3 episodes and I already got a very good insights while watching episode 2.

The politician passenger

There’s this scene when they are going to fly and one of their passenger is an important politician. This politician passenger is already late for 30 minutes, annoying and arrogant. Yet after they take off, turns out that this politician is afraid to fly and keep insisting the plane to land.

The captain agrees to him. After evaluating the conditions–based by a report from a senior CA that the politician is panicking and has a record for heart attack before– he decided to go back to Narita and in the end prioritizing for the politician to get off the plane.

Kimutaku (as Shinkai, the co-pilot) is flustered. He thinks that the captain was being unreasonable since he is sacrificing hundreds of other passengers for one arrogant politician.

“Passengers are all equal, first class, business class, economy class. It doesn’t matter.Just because he is a politician, you were biased against him.You figured because he was a loud politician, he was just making a fuss.”

“What if it had been an old woman in economy class?”, said the captain.

Turns out that the captain did the right thing. If he didn’t land on time and the politician wasn’t brought to the hospital, he could have been died from a heart attack.

Until the very moment I hear the captain’s line, I just realize how shallow I am. Because all this time, I often discriminate, labeled a person and making awful judgement just because they are wealthier than me.

Most of the times, false prejudice only addressed to the poor. But now I think, without realizing, I did it more to the rich and successful.

“On our planes, there are passengers we like and passengers we don’t. Don’t forget that we are responsible for every one of their lives. Above all, think of the condition of the passengers.”

Bruce Lee, My Brother

2 Apr

Selesai nonton  “Bruce Lee, My Brother”, dan rasanya dapet lagi sesuatu yang bikin open mind. Filmnya adalah tentang Bruce Lee, diceritakan dari sudut pandang sang adik, Robert Lee.

Simple, really. But watching it makes me experience so much thoughts while watching the movie.

Bruce Lee itu cuma aktor Hongkong yang berhasil debut di Amerika, selalu pake baju olahraga (kuning) ketat yang ada risleting depannya dan selalu teriak-teriak sepanjang berantem. Dan mati muda.  Udah. Cuma itu doang yang saya tau tentang Bruce Lee. Oh ya, dia juga punya anak dan entah kenapa saya selalu gak pernah tertarik untuk nonton filmnya karena gayanya yang sombong dan terkesan sok jago.

So I’m basically neutral, didn’t really dislike him and not so fond of him either.

Tapi, selesai nonton film ini–yang durasinya cukup panjang- saya lalu mendapat pandangan yang benar-benar beda soal si Bruce. Mungkin itulah yang mau disampaikan oleh Robert, adiknya. Semua sisi baik Bruce yang sebelumnya selalu tertimbun di balik gosip dan pemberitaan tak sedap dari media, dimunculkan di film ini. Seolah-olah si Robert mau bilang, “Gak semua yang lo liat itu benar. Kalian udah liat Bruce versi media, sekarang giliran gua”.

Semua yang belum pernah dimuat media dan sisi lain Bruce Lee benar-benar dibahas abis di film ini. Mulai dari ayah mereka yang keras dan disiplin, ibu yang selalu setia mendampingi sang ayah, walau sesusah apapun. Sahabat-sahabatnya yang sangat setia kawan, dan kenapa dia ke Amerika.

Somehow, saya jadi sangat salut pada Bruce Lee setelah nonton film ini. Never mind the silly sweatshirts, never mind his stupid yelling, dia adalah seorang yang mewujudkan mimpinya di saat semuanya betul-betul tidak mungkin. Jaman dulu, nggak ada orang Cina yang bisa main film di Amerika, ada adegan dia ditertawakan kakak-kakaknya dan temannya sendiri karena dianggap terlalu muluk bermimpi untuk jadi artis worldwide.

Dia juga pergi ke Amerika hanya berbekal US$ 102. Tapi dengan sangat pede, dia bilang ke adiknya Robert, bahwa suatu hari pada saat dia kembali ke Hongkong, dia akan membuat adiknya bangga.

And he really did it.

I really admire his spirit. Sekarang saya ngerti kenapa dia bisa jadi sosok yang hidup sepanjang masa.

Filmnya juga tidak dikemas dengan setting yang “biasa”. Warna-warnanya mengingatkan saya pada foto-foto modern bergaya jadul khas 60-an. Ringan tapi gak boring dan art directingnya betul-betul jempolan. Hampir mengingatkan saya ke video-video prewed yang bergaya jadul tapi manis. Aktor yang berperan jadi Bruce Lee juga bagus banget membawakan karakternya yang pede sekaligus hangat.

Sangat highly recommended untuk ditonton, it wouldn’t waste your time!

“The key to immortality is first living a life worth remembering.” ~Bruce Lee

PS : Wanna know how he get the name “Bruce”? Because his father asked his mother right after she finished giving birth. They were at America at that time and the only thing his mother remembered was “Push”, when his mother said “push”, his father misheard it as Bruce. LOL What a unique way to give name for your son.

Garfield visits

1 Apr

Hates cat for centuries and on one afternoon, I encountered a cat–staring at me through my front window.

 

Like I said, I never like cats, mostly hated them. But this one is cute enough to be forgiven for trespassing my house without permission.

He (I think it’s a “he”) looks pretty much like Garfield, with the orange fluffy hair, long and fat tail. And the “Puss in Boots” innocent expression—trying to persuade me to pet him. Without any reason, Mr. Puss just play around in my front door.

 

And me, for no reason just feel like pampering and caressing him.

It’s somehow comforting to fondle him, except for the fur that continues to fall.

Sometimes when encountering someone or something we dislike or even hate, somehow feels so much better if we could just open our mind, and embrace our hate.

 

Hope someday I can do this method to a much bigger world :D

Thanks for stopping by, Mr. Puss

Say YES to GAMBARU! –copas dari Rouli Esther

20 Mar

Bener-bener gak tahan kalo gak ngutip..  Mbak Rouli, ijinkan aku meng-kopas yaa..

Say YES to GAMBARU!

by Rouli Esther Pasaribu on Monday, March 14, 2011 at 12:02pm

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gam baru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja. Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya :

“doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu” (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi….juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :

*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup.

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa “nyalahin” Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang…..I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. kalau ditilik lebih jauh, “menyalahkan” Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya  : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya.

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini.

Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga. Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

Say YES to GAMBARU!

(Tulisan ini bisa juga dibaca di http://rouliesther.blogspot.com/)

Not Just Another Boyband

24 Dec

Really, what is so good about boy band? Boyband itu cuma modal tampang, they lipsync most of the time. And sometimes their songs aren’t even good. Lebih parah lagi, ada yang benar-benar cuma modal tampang dan nggak bisa nyanyi.

Saya nggak suka boy band tapi pernah jadi penggemar boy band.

Dulu boy band dikenal dengan gaya khas menyanyi mereka yang agak “ekspresif”.

TAPI sekarang, yang sedang membuat ratusan ribu bahkan jutaan orang di seluruh dunia tergila-gila adalah boy band asal Korea.

Tidak hanya gaya nyanyi, boy band asal Korea seolah-olah diproduksi untuk menampilkan performance yang sempurna di atas panggung. Koreografi yang sangat amat kompak plus kostum dan penampilan masing-masing personil betul-betul membuat saya angkat topi.

Selain boy band, Korea juga punya beberapa girl band yang saat ini popularitasnya malah jauh mendominasi di dunia musik. Sepertinya mereka benar-benar digembleng untuk memberikan performance yang maksimal.

Bukan hanya sekedar modal tampang, effort mereka untuk menyandang status boy/girlband seolah-olah ditunjukkan dari keseluruhan packaging yang mereka suguhkan.

Wow, bahkan saya yang tadinya anti, sekarang ikutan hobi.

Saya percaya, performa seseorang mencerminkan usaha dan kerja keras mereka. Tidak ada lagi pria-pria yang hanya modal tampang dan cuma keren doang, tapi nggak bisa nyanyi. Kalaupun ada, pasti mereka bakal terlibas habis dalam waktu singkat. Persaingan makin ketat, Bro!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.