Archive | January, 2010

That imperfection is perfect

31 Jan

People are devastated to become perfect.

It’s definitely insane!

How can one be a perfect when one was created with imperfection?

It’s imperfection that makes us human,

and that imperfection completes us as a perfect human being

Advertisements

Si pengasah pisau

28 Jan

Martin Luther King, Jr. said,

“If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted or Beethoven composed music or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, ‘Here lived a great street sweeper who did his job well.”

Di Jepang, ada profesi khusus untuk pengasah pisau. Dulu di Jakarta juga ada sih, tapi seiring perkembangan jaman Bapak-bapak pengasah pisau itu sudah tidak pernah kelihatan.

Pengasah pisau di Jepang ini bukan sekadar mengasah pisau, mereka juga menjual pisau dan gunting tradisional Jepang. Pisau-pisau yang mereka asah itu diuji sama restoran-restoran sushi, whether it’s sharp enough or not.

Waktu saya nonton beritanya, saya tidak menyangka profesi seperti ini masih bisa bertahan. Apalagi mereka melakukannya turun temurun. Dan entah kenapa kalimat dari blog Seth Godin yang saya baca kemarin terngiang-ngiang di benak saya, find a calling and then deliver.

Seperti kutipan di atas, semua yang dikerjakan dengan sepenuh hati dan dengan passion secara tekun pasti akan dihargai.

A global TV named arirang

3 Jan

Tidak banyak bahkan mungkin jarang sekali bisa menemukan konsep TV lokal yang siarannya ditujukan untuk internasional. Baru-baru ini saya menemukan stasiun TV Korea yang benar-benar mendedikasikan diri untuk melakukan siaran dengan kualitas internasional. Stasiun TV itu adalah ARIRANG, betul-betul Korean style in every way!

Mulai dari disain, jingle, musik, dan acara-acara yang ditayangkan pun adalah yang menampilkan kebudayaan Korea yang dikemas untuk disajikan secara internasional. Kebanggaan akan budaya dan negeri mereka, menjadi kekuatan utama stasiun TV yang disiarkan dalam 7 bahasa ini. Sebelumnya mereka hanya menyediakan 4 bahasa pilihan; Inggris, Mandarin, Perancis dan Arab. Kini siaran mereka merambah ke bahasa Rusia, Vietnam, bahkan Indonesia!

Saya benar-benar takjub dengan komitmen mereka dalam merepresentasikan negara mereka. Meskipun acara yang ditayangkan adalah drama Korea, teks bahasa inggris selalu menyertai sehingga audiens yang asing dengan bahasa Korea dapat dengan mudah menikmatinya. Mereka juga secara intens mempromosikan dunia showbiz, musik bahkan game –mereka menayangkan satu acara yang membahas game buatan lokal untuk mendukung produktivitasnya.

Tidak hanya itu, mereka juga menayangkan acara harian untuk belajar bahasa Korea, “Let’s Speak Korean”. Acara ini bahkan dikembangkan menjadi acara game yang dapat dinikmati seminggu sekali. Yang menjadi bintang tamu untuk bermain di acara Let’s Speak Korean The Game biasanya orang-orang asing yang tidak fasih, efek samping dari acara ini membuat penonton seperti saya berpikir kalau bahasa Korea sama sekali tidak sulit dan bisa menjadi materi yang sangat fun.

Di tengah maraknya sinetron dan reality show serta virus acara musik live yang sama sekali tidak mendidik, ARIRANG adalah inspirasi baru bagi saya. Meskipun dalam konteks TV global, program yang ditayangkan stasiun TV Korea ini sama sekali ringan. Reality show yang ditayangkan adalah tentang kisah hidup inspiratif warga Korea  sehari-hari yang penuh motivasi positif. Saya ingat waktu itu ada satu pegawai kepolisian yang ternyata adalah orang Indonesia. Dia menikah dengan wanita Korea dan menetap disana. Kehidupannya yang penuh suka duka dijalani dengan semangat.

Infotainment pun disajikan secara manis dan hangat, tidak dibuat-buat dan lebih bertujuan untuk mempromosikan dunia hiburan Korea. Berita tentang artis ataupun resensi film dibahas dengan detil-detil yang mengacu pada komentar positif.

Mungkin suatu hari, jika semua negara berkomitmen untuk memiliki satu stasiun TV lokal yang disiarkan global, yang memiliki kompetensi seperti ARIRANG, TV bukan lagi idiot box bagi masyarakat.