Lima Puluh Bunyi-bunyian Inspiratif

18 Feb

Baru saja nonton konser orkestra alat-alat musik tradisional ASEAN dan Korea, lagi-lagi dari Arirang (I really love this TV station). Keren banget! Project paling idealis yang pernah saya dengar untuk sebuah konser musik.

It’s an ASEAN-Korea collaboration

Korea adalah negara yang jadi pencetus proyek ambisius ini, mengumpulkan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Laos, Srilangka, Thailand, Filipina—dan pastinya Indonesia— untuk bekerja sama mengumpulkan musisi spesialis alat musik tradisional terbaik dari negara masing-masing.

Not balok = western notes!

Ada sekitar 50 instrumen tradisional  yang dimainkan di konser ini dan tentunya bukan proyek ambisius kalau tidak ada kesulitan dalam pelaksanaannya.

Mulai dari pemain musiknya yang rata-rata nggak bisa baca not balok –they call it western notes :D— kemudian pas udah tes sound, semua alat musik itu nggak ada yang sama pitch-nya. Jangankan antara suling dan gamelan, antara sasando dengan sesama alat musik string dari Filipina aja nada do-nya udah beda.

Jadilah mereka bekerja keras menyesuaikan pitch level untuk setiap nada.

Karakter itu milik orkestra, bukan perorangan

Kemudian karena  yang diikutkan adalah pemain alat musik yang piawai, kebanyakan—boleh dibilang semuanya—terlalu berkarakter dalam memainkan musiknya. Sedangkan dalam orkestra, semuanya harus blend jadi satu. Di sinilah sang konduktor diuji kompetensinya.

Tim komposer dan sound artistic yang sangat amat berpengalaman berkeliling dari satu alat musik ke alat musik lain untuk memahami karakteristiknya. Dengan memahami bagaimana suatu alat musik dimainkan, mereka dapat lebih leluasa memberikan aba-aba kepada si pemain agar peran si alat musik dapat dieksplorasi sampai maksimal.

Blending fifty characters into one personality

Pemimpin  proyek orkestra ini hanya memiliki satu konsep, agar alat musik tradisional dari berbagai negara Asia ini dapat bersatu untuk memainkan musik tanpa kehilangan ciri khas mereka. Karena itulah ia mendengarkan berulang-ulang pada saat latihan dimulai, agar tidak ada alat musik yang dominan dan agar tidak ada alat musik yang tidak “kelihatan”.

Masing-masing dapat satu

Pada saat konser mereka akhirnya digelar, lagu dari masing-masing negara dibawakan dengan dipimpin oleh konduktor masing-masing. Rasanya betul-betul membanggakan menyaksikan betapa kayanya Asia, dengan masing-masing kebudayaannya menyatu dalam musik.

After effects, fully inspired!

Dan inspirasi yangdialirkan betul-betul merasuki hati, bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Sayangnya, acara ini tidak ditayangkan bahkan diberitakan sedikitpun di Indonesia. Padahal saya aja bangga sekali melihat kelompok pemain gamelan yang karena keahliannya mampu membawa Indonesia ke panggung Asia.

Setiap konsernya membawakan sejumlah lagu yang masing-masing mewakili satu negara. Kalau memainkan piece dari negara Laos, konduktornya pun dari Laos. Untuk masing-masing lagu yang mewakili tiap negara ini, mereka bekerja keras untuk menonjolkan ciri khas dari negara mereka masing-masing. Misalnya yang dari Filipina, memilih lagu yang riang dan menggunakan lirik.

Kalau yang seperti ini ditayangkan di televisi kita, mungkin bisa jadi angin yang sangat segar karena masyarakat tidak akan melulu dicekoki berita-berita negatif seputar sidang bail-out atau isu miring selebritis.

Saya pikir, inspirasi yang didapat akan jauh lebih konstruktif dibanding sinetron.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: