Bruce Lee, My Brother

2 Apr

Selesai nonton  “Bruce Lee, My Brother”, dan rasanya dapet lagi sesuatu yang bikin open mind. Filmnya adalah tentang Bruce Lee, diceritakan dari sudut pandang sang adik, Robert Lee.

Simple, really. But watching it makes me experience so much thoughts while watching the movie.

Bruce Lee itu cuma aktor Hongkong yang berhasil debut di Amerika, selalu pake baju olahraga (kuning) ketat yang ada risleting depannya dan selalu teriak-teriak sepanjang berantem. Dan mati muda.  Udah. Cuma itu doang yang saya tau tentang Bruce Lee. Oh ya, dia juga punya anak dan entah kenapa saya selalu gak pernah tertarik untuk nonton filmnya karena gayanya yang sombong dan terkesan sok jago.

So I’m basically neutral, didn’t really dislike him and not so fond of him either.

Tapi, selesai nonton film ini–yang durasinya cukup panjang- saya lalu mendapat pandangan yang benar-benar beda soal si Bruce. Mungkin itulah yang mau disampaikan oleh Robert, adiknya. Semua sisi baik Bruce yang sebelumnya selalu tertimbun di balik gosip dan pemberitaan tak sedap dari media, dimunculkan di film ini. Seolah-olah si Robert mau bilang, “Gak semua yang lo liat itu benar. Kalian udah liat Bruce versi media, sekarang giliran gua”.

Semua yang belum pernah dimuat media dan sisi lain Bruce Lee benar-benar dibahas abis di film ini. Mulai dari ayah mereka yang keras dan disiplin, ibu yang selalu setia mendampingi sang ayah, walau sesusah apapun. Sahabat-sahabatnya yang sangat setia kawan, dan kenapa dia ke Amerika.

Somehow, saya jadi sangat salut pada Bruce Lee setelah nonton film ini. Never mind the silly sweatshirts, never mind his stupid yelling, dia adalah seorang yang mewujudkan mimpinya di saat semuanya betul-betul tidak mungkin. Jaman dulu, nggak ada orang Cina yang bisa main film di Amerika, ada adegan dia ditertawakan kakak-kakaknya dan temannya sendiri karena dianggap terlalu muluk bermimpi untuk jadi artis worldwide.

Dia juga pergi ke Amerika hanya berbekal US$ 102. Tapi dengan sangat pede, dia bilang ke adiknya Robert, bahwa suatu hari pada saat dia kembali ke Hongkong, dia akan membuat adiknya bangga.

And he really did it.

I really admire his spirit. Sekarang saya ngerti kenapa dia bisa jadi sosok yang hidup sepanjang masa.

Filmnya juga tidak dikemas dengan setting yang “biasa”. Warna-warnanya mengingatkan saya pada foto-foto modern bergaya jadul khas 60-an. Ringan tapi gak boring dan art directingnya betul-betul jempolan. Hampir mengingatkan saya ke video-video prewed yang bergaya jadul tapi manis. Aktor yang berperan jadi Bruce Lee juga bagus banget membawakan karakternya yang pede sekaligus hangat.

Sangat highly recommended untuk ditonton, it wouldn’t waste your time!

“The key to immortality is first living a life worth remembering.” ~Bruce Lee

PS : Wanna know how he get the name “Bruce”? Because his father asked his mother right after she finished giving birth. They were at America at that time and the only thing his mother remembered was “Push”, when his mother said “push”, his father misheard it as Bruce. LOL What a unique way to give name for your son.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: