Archive | My thoughts RSS feed for this section

Jangan lupa untuk “mencicipi” orang lain

17 Mar

Beberapa bulan ini tugas memasak untuk makan sehari-hari terpaksa dipercayakan ke saya. Setiap kali memasak dan mencicip makanan, lidah saya selalu merasa sudah oke, sudah persis dengan yang dibuat oleh ibu saya.

Kemudian beberapa minggu yang lalu pada saat ada event dimana makanan harus dimasak tujuh rupa, ibu saya turun tangan. Pada saat saya mencicipi makanannya, saya baru sadar ternyata rasa yang saya pikir sama selama ini adalah totally hallucination!

Masakan Ibu saya benar-benar menceritakan pengalaman dan skill yang belum saya kuasai. Kemudian saya berpikir;

Dalam profesi apapun, sepanjang apapun tempo kita melakoninya, ada baiknya berhenti sebentar dan meluangkan waktu untuk kembali “mencicipi” sedikit saja dari seseorang yang lebih ahli dan berpengalaman. Bukan untuk meniru atau menyamakan karya, tapi untuk beristirahat dari rasa puas diri dan mengosongkan gelas kita.

Puas diri hanya akan mengantarkan ke kesombongan dan comfort zone yang menghalangi kerja keras untuk menjadi lebih baik.

Advertisements

If you can’t appreciate it then don’t underestimate it.

18 Feb

If you can’t appreciate it then don’t underestimate it.

Kemarin saat sedang getol-getolnya membuat kue, saya meng-unseal satu kaleng blue band kemasan 500 gram. Hari sebelumnya saat saya sedang membuka kaleng mentega, babe saya tercinta sempat orasi panjang lebar soal betapa tajamnya tutup kaleng dan bagaimana saya harus berhati-hati karena si tutup kaleng itu kalau salah pegang bisa mengiris jari saya. Sambil diceramahi seperti itu saya sempat berpikir, yah saya juga tahu lah. Toh proses buka kaleng seperti ini bukan pertama kalinya saya lakoni.

Dan terjadilah hal itu, jempol kanan saya mendadak menancap di segel kaleng yang sedang saya buka (karena segelnya terbuat dari seng atau sejenis alumunium, jadinya tajam sodara-sodari).

Betul-betul karma, pikir saya karena pada saat itu saya sangat amat meng-underestimate si segel kaleng. Sebegitu saya pikir hal seperti itu tidak berbahaya, tiba-tiba jempol kanan saya berdarah.

Terpotong, bukan tergores lho ya. Lukanya lumayan dalam sampai menghentikan darahnya aja perlu 5 menit. Karena itulah saya seketika belajar, kalau kita tidak menyukai sesuatu, sedikitnya jangan meremehkannya.

Kalau tidak bisa dihargai ya jangan diremehkan.