Archive | Reportase RSS feed for this section

Bambino!

19 Aug

Waw, lama banget nggak nonton dorama Jepang. Saya selalu lebih prefer J-Drama dibanding K-Drama, alur ceritanya lebih fokus dan karakternya seratus persen, jadi dalam satu cerita biasanya aktor yang main hanya sedikit tapi fokus pada karakter masing-masing. Awesome!

Kemarin, baruu aja berhasil dapet Bambino! Setelah sekian lama dicari-cari.

Ceritanya tentang mahasiswa yang part time jadi chef (But i’m not sure he’s a chef yet) di restoran Italia di kota Fukuoka. Namanya Ban Shogo.

Awalnya dia konfiden banget dengan masakannya karena semua orang yang jadi pelanggan resto itu selalu bilang masakannya enak dan belum pernah ada yang komplain. Suatu hari si pemilik resto mengutus dia untuk jadi “helper” di restoran temannya di Tokyo.

Sama-sama restoran Italia, tapi begitu Ban sampai di sana, ternyata ia tidak mumpuni, bahkan untuk menjadi helper sekalipun. Rasa percaya dirinya hancur total, sempat down dan merasa tak berguna. Tapi dia bertekad untuk berjuang (meski semua film Jepang terkesan lebay di bagian “berjuang” ini, tapi saya benar-benar suka dengan cara Ban mengatasi rasa frustasinya).

Kepala chef yang senang melihat semangatnya, memberinya julukan “Bambino”, artinya anak yang baru lahir. Semua pemula di resto itu selalu melewati tahap Bambino untuk jadi pro.

Satu per satu masalah dilewati oleh Ban, saya aja yang nonton merasa stres melihat tumpukan masalah yang dihadapinya. Tapi bagusnya dalam film itu, dia tidak manja. Tanpa mengandalkan orang lain untuk membantu memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dia selalu berusaha mengatasi semua yang ada di depan mata.

Selain masakan enak yang appealing dan berbagai trik restoran yang menarik, di tiap episode selalu ada adegan dimana 3 senior resto–si kepala waiter (capo camerriere), manager resto, dan master chef–nongkrong di bar dan mengobrol tentang hari itu. Yah, adegannya memang simpel sekali. Tapi saya sangat yakin, adegan itu benar-benar menghangatkan setiap episode karena dibawakan oleh aktor-aktris yang piawai. Karena feel-nya orisinil sekali, seolah-olah mereka tidak sedang berakting dan tidak tahu ada kamera yang sedang merekam.

This movie teaches me a lot, a whole lot of things! Mulai dari semangatnya si Ban, padahal bisa aja dia tinggal pulang ke kampung halamannya di Fukuoka dan lanjut jadi chef disana. Toh masakannya sudah cukup enak. Tapi dia tetap determined untuk terus bekerja di Baccanale, resto Tokyo itu. Meski jadi loser dan sempat diremehkan sama senior-seniornya disana karena ia tidak bisa mengerjakan apapun dengan benar, perlahan-lahan ia belajar dan membuat orang angkat topi pada akhirnya.

Well, untuk jadi pro di suatu hal memang harus punya keberanian dan niat yang seratus persen. Saya belajar hal itu dari film ini.

Gagal didefinisikan sebagai terus dan coba lagi. Walaupun masakannya Ban tidak seenak chef di resto itu, dia yang sempat ciut hatinya dan merasa tidak pantas jadi koki  juga tidak berhenti untuk memasak. Karena dia sangat suka memasak, maka dia berjuang supaya kelak masakannya bisa jadi jauh lebih baik.

Rating saya untuk film ini 4.5 dari 5 🙂

Good scenario, skilled actors, great ambience, and wonderful editing. Nggak akan bosan deh nonton film ini.

Lima Puluh Bunyi-bunyian Inspiratif

18 Feb

Baru saja nonton konser orkestra alat-alat musik tradisional ASEAN dan Korea, lagi-lagi dari Arirang (I really love this TV station). Keren banget! Project paling idealis yang pernah saya dengar untuk sebuah konser musik.

It’s an ASEAN-Korea collaboration

Korea adalah negara yang jadi pencetus proyek ambisius ini, mengumpulkan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Laos, Srilangka, Thailand, Filipina—dan pastinya Indonesia— untuk bekerja sama mengumpulkan musisi spesialis alat musik tradisional terbaik dari negara masing-masing.

Not balok = western notes!

Ada sekitar 50 instrumen tradisional  yang dimainkan di konser ini dan tentunya bukan proyek ambisius kalau tidak ada kesulitan dalam pelaksanaannya.

Mulai dari pemain musiknya yang rata-rata nggak bisa baca not balok –they call it western notes :D— kemudian pas udah tes sound, semua alat musik itu nggak ada yang sama pitch-nya. Jangankan antara suling dan gamelan, antara sasando dengan sesama alat musik string dari Filipina aja nada do-nya udah beda.

Jadilah mereka bekerja keras menyesuaikan pitch level untuk setiap nada.

Karakter itu milik orkestra, bukan perorangan

Kemudian karena  yang diikutkan adalah pemain alat musik yang piawai, kebanyakan—boleh dibilang semuanya—terlalu berkarakter dalam memainkan musiknya. Sedangkan dalam orkestra, semuanya harus blend jadi satu. Di sinilah sang konduktor diuji kompetensinya.

Tim komposer dan sound artistic yang sangat amat berpengalaman berkeliling dari satu alat musik ke alat musik lain untuk memahami karakteristiknya. Dengan memahami bagaimana suatu alat musik dimainkan, mereka dapat lebih leluasa memberikan aba-aba kepada si pemain agar peran si alat musik dapat dieksplorasi sampai maksimal.

Blending fifty characters into one personality

Pemimpin  proyek orkestra ini hanya memiliki satu konsep, agar alat musik tradisional dari berbagai negara Asia ini dapat bersatu untuk memainkan musik tanpa kehilangan ciri khas mereka. Karena itulah ia mendengarkan berulang-ulang pada saat latihan dimulai, agar tidak ada alat musik yang dominan dan agar tidak ada alat musik yang tidak “kelihatan”.

Masing-masing dapat satu

Pada saat konser mereka akhirnya digelar, lagu dari masing-masing negara dibawakan dengan dipimpin oleh konduktor masing-masing. Rasanya betul-betul membanggakan menyaksikan betapa kayanya Asia, dengan masing-masing kebudayaannya menyatu dalam musik.

After effects, fully inspired!

Dan inspirasi yangdialirkan betul-betul merasuki hati, bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Sayangnya, acara ini tidak ditayangkan bahkan diberitakan sedikitpun di Indonesia. Padahal saya aja bangga sekali melihat kelompok pemain gamelan yang karena keahliannya mampu membawa Indonesia ke panggung Asia.

Setiap konsernya membawakan sejumlah lagu yang masing-masing mewakili satu negara. Kalau memainkan piece dari negara Laos, konduktornya pun dari Laos. Untuk masing-masing lagu yang mewakili tiap negara ini, mereka bekerja keras untuk menonjolkan ciri khas dari negara mereka masing-masing. Misalnya yang dari Filipina, memilih lagu yang riang dan menggunakan lirik.

Kalau yang seperti ini ditayangkan di televisi kita, mungkin bisa jadi angin yang sangat segar karena masyarakat tidak akan melulu dicekoki berita-berita negatif seputar sidang bail-out atau isu miring selebritis.

Saya pikir, inspirasi yang didapat akan jauh lebih konstruktif dibanding sinetron.